Tuesday, February 8, 2011

Gagalnya Komunikasi

SEMUA orang tahu bahwa Indonesia adalah negara multietnis. Negara kesatuan hidup di tengah keberagaman. Namun, satu hal yang masih sulit untuk dijalani adalah bagaimana memahami keragaman itu sendiri.

Memaknai dan memahami suatu perbedaan dalam keberagaman etnis, budaya, dan agama di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika perbedaan itu sudah menyangkut suatu hal azasi dalam diri seseorang atau kelompok tertentu. Ditambah lagi, masyarakat kita lebih sering belajar dan berbicara soal keseragaman daripada keberagaman yang ada.

Hal ini tidaklah mengherankan mengingat semasa Orde Baru masyarakat dididik untuk serba sama. Kita dicekoki dengan ”homogenitas” dan ”persatuan” yang polos dengan membunuh keberagaman yang ada. Di masa sebelumnya, keberagaman itulah yang dipersatukan oleh para pendiri bangsa.

Padahal, sebagai bangsa yang hidup berlandaskan Pancasila, sudah barang tentu kita harus menjunjung tinggi kebhinnekaan yang ada dalam semboyan ”Bhinneka Tunggal Ika”. Artinya, dalam mewujudkan persatuan, bukan berarti kita memarjinalkan keberagaman begitu saja. Tetapi, menemukan suatu jalan agar keberagaman yang kita miliki bisa menemukan kesepahaman dan melebur menjadi satu.

Pendidikan keberagaman saat ini masih jauh dari apa yang dirumuskan Bung Karno dalam Pancasila. Tempat di situ pluralitas memeroleh pengakuan dan ditempatkan sebagai dasar kehidupan bermasyarakat. Namun, saat ini kita cenderung menolak pluralitas yang ada. Heterogenitas yang ada di negara ini memerlukan suatu ruang interaksi dan toleransi.

Komunikasi multikultural perlu mengambil tempatnya. Keberagaman yang ada perlu dikomunikasikan untuk membentuk suatu lingkaran kesepahaman di antara dua atau lebih keberagaman yang ada.

Ironisnya, masyarakat belum terdidik untuk mengatasi keberagaman secara bijak dan cenderung melakukan justifikasi sepihak yang anarkis. Bentrok antara FPI dan AKKBB adalah contoh.

Dalam konteks komunikasi multikultural, kasus tersebut menunjukkan kegagalan komunikasi antara dua kelompok kepentingan. (80)

*Artikel dimuat di Suara Merdeka, 21 Juni 2008 Rubrik Kampus
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/06/21/18621/Gagalnya-Komunikasi

No comments:

Post a Comment