Menuju Kemerdekaan Indonesia 100%
–Oleh : Adinda Nusantari–
Ada sebuah cerita dari tanah Papua. Tempat dimana orang makan dan berpakaian seadanya. Dimana orang masih tinggal di daerah pedalaman dengan gubug seadanya. Tempat dimana identitas menjadi harga mati yang diperjuangkan hingga sekarang. Tanah mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat hukum adat di sana. Karena itulah, mereka sering melakukan penolakan terhadap penggunaan tanah oleh para pendatang. Termasuk, menolak adanya pemancar provider.
Namun uniknya, mereka sebenarnya memiliki ponsel. Nah, keseharian mereka tidak lepas dari kegiatan asyik mencari-cari sinyal handphone. Ada yang mendapatkan sinyal di atas pohon, ada yang dalam berposisi nungging, bahkan ada yang harus rela menggelantung di bawah jempatan. Kenyataan itulah yang saya alami ketika sedang melakukan penelitian etnografis di sana. Tepatnya di sekitar Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Pertannyaannya, ada apa dengan handphone?
Itulah menariknya. Satu sisi masyarakat menolak berbagai “ruang modernitas”, seperti peningkatan pelayanan pendidikan dan kesehatan, layaknya sekolah dan rumah sakit [simak bagaimana film Denias, coba menggambarkan itu dengan ditolaknya sekolah karena memakai tanah adat], tetapi di lain sisi “simbol komunikasi”, yaitu handphone masuk sebagai bagian yang terintegrasi secara sosiologis dengan masyarakat. Artinya, komunikasi hari ini tidak bisa ditafsirkan sebagai kebutuhan sekunder, tetapi semakin kukuhlah komunikasi sebagai sebuah kebutuhan primer, layaknya makan dan minum.
Maka kemudian lahirlah ungkapan bahwa masa depan yang akan dihadapi manusia bergantung pada komunikasi. Prediksi ini didasari oleh realita saat ini, ketika kemajuan teknologi bidang mikrochip, komputer, dan satelit cukup dominan. Tiga bidang teknologi inilah yang akan memacu revolusi komunikasi dan informasi (DeFleur/Dennis 1985: 76).
Menyapa Indonesia : Membunuh Batas Informasi
Dalam filosofi kebangsaan Indonesia yang terkenal dengan Bhinneka Tunggal Ika, komunikasi pun menempati posisi penting dalam mengisi persatuan bangsa. Papua hanya satu dari ribuan pulau yang ada di bumi nusantara yang belum cukup terhubung dengan berbagai daerah lain. Pada titik ini, mempersatukan Indonesia secara fisik berarti membangun infrastruktur dengan biaya trilyunan. Hingga kini pun, masih banyak daerah-daerah di pelosok negeri yang belum terjangkau akses transportasi. Ujungnya, mereka kesulitan mendapatkan akses informasi dan komunikasi. Padahal, sebagai sebuah bangsa, komunikasi antar warga dan jaminan akses informasi adalah keharusan.
Komunikasi tidak hanya menjadi alat untuk menjalin relasi, namun juga memajukan Indonesia. Di Indonesia, hadirnya perangkat seluler merupakan bagian penting dari solusi atas keberagaman yang ada. Piranti seluler menawarkan alat komunikasi yang murah di negara di mana medan yang sulit telah menghambat investasi dalam komunikasi. Misalnya, mengikis adanya dominasi, bahkan etnosentrisme.
Selama ini, Indonesia lebih dikuasasi golongan elit, sehingga masyarakat tak memiliki akses untuk mengontrol dan berpartisipasi. Kasus suap, bentrok dengan aparat, penindasan rakyat kecil, dan berbagai masalah sosial yang disebabkan ulah para elit politik bisa dengan mudah terjadi karena lemahnya kontrol dan keterlibatan warga secara aktif dalam proses bernegara.
Ruang publik yang diharapkan mampu menjadi jembatan antara warga dengan para pemangku kekuasaan sulit dijumpai dalam keseharian. Bahkan, media massa yang semestinya mampu memegang peran itupun, kini hanya menjadi pertarungan wacana yang elitis. Maka, dibutuhkan adanya sebuah ruang publik yang tidak elitis, tetapi egaliter. Sebuah ruang yang tentunya memungkinkan siapapun, termasuk warga biasa untuk ikut ambil bagian dalam memajukan Indonesia. Datangnya revolusi di bidang komunikasi dan informasi, lebih tepatnya internet boleh jadi merupakan ilham bagi pembaharuan ruang publik ini (renewed public sphere). Melalui internet, kendali terhadap akses informasi tidak hanya dimiliki oleh segelintir orang di bagian redaksi, atau golongan elit lainnya.
Sejak kemunculan internet yang pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat dunia dalam suatu demonstrasi di International Computer Communication Conference (ICCC) pada Oktober 1972, internet telah mengalami perkembangan pesat. Internet merupakan jalan raya digital yang membuka sekat ke daerah yang jauh terpencil di Indonesia dan mengatasi kendala ruang dan waktu untuk menciptakan komunitas virtual.
Survei terbaru yang dilakukan oleh Mark Plus Insight menyebutkan bahwa pengguna Internet di Indonesia di tahun 2011 mencapai 55,23 juta orang (the-merketeers.com, 2011). Dari jumlah tersebut, penetrasi untuk mobile internet telah mencapai 57,4%. Lembaga Survei Nielsen mencatat, saat ini sekitar 48% pengguna internet di Indonesia menggunakan ponsel untuk mengakses internet (okezone.com, 2011).
Dengan demikian, harus disebut di sini bahwa industri seluler memainkan peran bagi peningkatan akses internet. Harga ponsel yang kian murah dan adanya berbagai fasilitas memungkinkan penggunaan jejaring sosial secara luas. Survei menunjukkan, kepemilikan seluler membuat orang semakin mudah mengakses internet. Data menyebutkan bahwa sebagaian besar masyarakat Indonesia mengakses internet lewat seluler.
Situs Indonesia Finance Today menyebutkan, pelanggan seluler di Indonesia saat ini mencapai 70% dari total populasi, 237 juta penduduk. Dalam segenggam ponsel, warga mendapatkan hak yang sama untuk memperoleh akses informasi. Mulai dari mengirim sms, telepon, browsing, hingga ber-social media, layanan seluler semakin memiliki peran penting di kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Data Nielsen menunjukkan bahwa penetrasi telepon seluler meningkat tiga kali lipat sejak tahun 2005 (okezone.com, 2011).
Industri seluler, dengan demikian turut memperbaharui ruang publik, berserta pola komunikasi yang terjadi di masyarakat. Jika butuh trilyunan rupiah untuk membuat warga terhubung lewat jalan raya, maka cukup ratusan ribu untuk membuat mereka terkoneksi lewat seluler. Ya, harga ponsel memang masih terjangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Cukup 200 hingga 300 ribu-an saja bagi seseorang untuk bisa mengakses informasi dan berkomunikasi dengan siapapun, kapanpun, dimanapun.
Pertumbuhan penggunaan ponsel di Indonesia memang relatif pesat. Tahun 2009 saja, Wireless Intelligent mencatat pengguna ponsel di Indonesia mencapai 116 juta. Tahun ini, jumlahnya mungkin telah lebih dari 125 juta (tribunnews.com, 2011).
Dengan mengatasi problem jarak dan waktu yang ada dalam pola komunikasi tradisional, handphone telah membuat masyarakat mampu membuka sekat relasi dan informasi. Technology determines.
Pemuda dan Perubahan
Sesuai dengan ungkapan Marshall McLuhan, “Kita membentuk peralatan untuk berkomunikasi, dan peralatan untuk berkomunikasi itu akhirnya membentuk atau memengaruhi kehidupan kita sendiri (Griffin, 2003: 343).” Dalam sejarah peradaban umat manusia, revolusi di bidang komunikasi selalu berdampak pada revolusi di bidang kehidupan yang lebih luas.
Banyak faktor yang memicu dan melancarkan revolusi. Namun, peran internet dapat dikatakan sangat vital, setidaknya dalam dua hal. Pertama, internet memampukan (empower) setiap orang untuk mengendalikan akses dan medianya sendiri. Melalui blog atau jejaring sosial pribadi, seseorang dapat menulis dan menyebarkan informasi terkait permasalahan sosial apapun dari sudut pandang mereka, tanpa ada yang mengintervensi maupun menyensor. Kedua, konvergensi telepon selular dan internet kian memudahkan seseorang untuk melakukan konsolidasi secara massal.
Bicara soal perubahan dan masa depan, sosok pemuda menjadi tokoh sentral. Melalui percepatan teknologi komunikasi, banyak hal yang dapat dilakukan oleh anak muda. Dalam konteks global, Revolusi Melati di Tunisia adalah contoh perubahan sosial radikal yang terjadi karena kekuatan konvergensi teknologi dan pemuda. Mohamad Bouazizi tercatat sebagai pengobar semangat pada revolusi Tunisia ini. Pemuda alumni perguruan tinggi Tunisia yang berprofesi sebagai penjual buah ini melakukan aksi bakar diri sebagai protesnya terhadap kelaliman penguasa. Dengan bantuan teknologi, warga pun ramai-ramai menyampaikan simpati atas tindakan Bouazizi melalui twitter. Konsolidasi secara massal pun terbentuk dan protes berlanjut hingga menimbulkan pergolakan disusul runtuhnya rezim Presiden Zine El-Abidine Ben Ali yang telah berkuasa selama puluhan tahun.
Lupakan sejenak revolusi di Tunisia. Kembali ke Indonesia, dalam sejarah bangsa ini, anak muda adalah golongan yang identik dengan akselerasi, kreasi, dan imajinasi. Maka tidak salah ketika Bung Karno pernah berujar “Beri aku sepuluh pemuda, maka aku akan merubah dunia”. Semua akan terus mengingat bagaimana para pemuda Indonesia selalu tampil dalam pembangunan bangsa. Mulai dari Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda, hingga Proklamasi Kemerdekaan.
Melalui jiwa seorang pemuda, banyak pemikiran, kreasi, dan inovasi yang bisa dilakukan. Jika dulu para pemuda dituntut untuk mampu berperang dan menuangkan gagasannya agar bangsa ini merdeka dari penjajah, maka tantangan pemuda masa kini adalah tuntutan penguasaan akses informasi dan komunikasi untuk memerdekakan bangsa ini dari berbagai masalah sosial. Kemiskinan, keterbelakangan, kemacetan, birokrasi yang semrawut, dan eksploitasi sumber daya adalah segelintir hal yang mesti dipecahkan oleh generasi penerus bangsa. Di tengah pesimisme yang meluas, tidak sedikit pula yang masih percaya bahwa dengan akselerasi dan kreativitasnya, pemuda mampu mewujudkan perubahan. Teenager determines.
Pemuda : Menuju Perubahan Sosial Berbasis Komunitas Virtual
Bicara soal kekinian, teknologi informasi-komunikasi dan pemuda adalah dua perkara yang melekat. Keduanya bertemu pada titik akselerasi. Di tengah penetrasi internet yang terus berkembang pesat, penggunaannya hingga saat ini terkonsentrasi di kalangan muda yang cenderung lebih terbuka terhadap perubahan dan merasa nyaman dengan teknologi. Kondisi ini dapat dilihat dari penggunaan seluler dan internet. Komposisi usia 15-24 tahun dan 25-34 tahun mendominasi penggunaan internet di Indonesia (comScore Inc, 2011). Selain penggunaan laptop dan modem, akses internet oleh kebanyakan anak muda dilakukan melalui seluler.
Faktanya, dikotomi positif-negatif yang menjadi kecenderungan anak muda dalam mengakses kanal informasi memang tidak dapat dipungkiri. Harus diakui tidak semua anak muda memanfaatkan potensi yang ada pada akses informasi dan komunikasi masa kini. Tidak sedikit yang hanya menggunakan akses dan kanal informasi untuk tujuan yang kurang produktif. Misalnya menggunakan sosial media seperti facebook dan twitter hanya untuk menjalin relasi, saling ejek, atau malah terjerumus dalam pergaulan fiktif ala facebook yang berujung pada penculikan. Merugilah mereka. Karena sebetulnya, ada kekuatan yang jauh lebih besar dalam internet dan pemuda itu sendiri. Misalnya, menyebarluaskan konsep dan gagasan kreatif yang bermanfaat bagi kehidupan berbangsa.
Saya cukup terperangah dan takjub melihat ajang kompetisi bagi anak muda untuk pembuatan konsep melalui web di Indonesia yang diadakan oleh salah satu produsen laptop internasional terkemuka. Betapa cerdasnya para kontestan-kontestan itu. Secara sosial, ada yang membuat “sekolah berjaringan” untuk mengatasi problem keterbelakangan pendidikan di daerah terpencil. Belum lagi munculnya konsep penangan kemacetan, melalui pemanfaatan sungai untuk transportasi. Bahkan, ada beberapa anak muda yang menggagas tentang, bagaimana masyarakat kota dengan lahan yang sempit mampu di dorong untuk upaya pelestarian lingkungan, dengan cara berkebun menggunakan pot. Kondisi ini mengisyaratkan, sudah banyak pemuda yang menyadari arti penting kekuatan teknologi informasi dan komunikasi.
Dari segi ekonomi, saat ini banyak anak muda yang lahir menjadi pengusaha muda melalui toko-toko online. Selain memfasilitasi sarana promosi, internet juga mampu memangkas kendala distribusi. Dan komunikasi via seluler-lah yang akhirnya menjembatani pengusaha muda ini dengan konsumen-konsumen mereka. Inilah yang memungkinkan mereka berinisiasi untuk memperbaiki kehidupannya sendiri. Jika hal ini makin meluas, tentunya tidak akan lagi kita jumpai anak-anak muda yang menengadahkan tangan di jalanan. Bahkan, di Yogyakarta seorang sopir becak yang dikenal sebagai Hary van Jogja pun memanfaatkan teknologi komunikasi untuk memasarkan jasanya. Update status dan menulis di halaman sosial media miliknya adalah strategi untuk berpromosi, sekaligus menuangkan gagasannya.
Artinya, melalui penguasaan akses informasi dan komunikasi, perubahan sosial akan sangat mungkin terjadi. Internet menyediakan sebuah ruang dimana setiap orang dapat saling terhubung, bertukar informasi, saling berkumpul dan mendukung. Komunitas-komunitas online adalah contoh yang memungkinkan terjadinya interaksi dan pertukaran informasi dalam skala nasional. Komunitas virtual itulah yang akhirnya menjadi ruang publik baru, yang lebih egaliter.
Upaya Pemberdayaan : Menuju Kemerdekaan 100%
Meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia ini tentu memberikan dampak yang luas baik secara ekonomi, sosial, atau budaya. Hal ini dimungkinkan karena sebuah modal besar dimiliki oleh teknologi informasi dan komunikasi ini, yaitu akses. Ketersediaan akses berarti pemenuhan terhadap hak dasar manusia, yakni right to know dan right to expression. Bahkan untuk masyarakat di daerah pinggiran sekalipun.
Teknologi internet yang konvergen dengan seluler memang semakin memudahkan tiap orang dalam mengakses kebutuhan informasi. Namun, dua produk yang berkolaborasi ini memang unik. Jika salah satu dilepaskan, keduanya tetap mampu memberi implikasi sosial.
Ada sebuah cerita menarik dari seorang kawan manakala melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat di Gunung Kidul. Sebagaimana kita tahu, Gunung Kidul adalah daerah yang masih jauh dari keramaian maupun akses transportasi dan komunikasi. Hal ini yang seringkali membuat mereka kurang produktif dalam memanfaatkan sumber daya. Kawan saya mendapati bahwa, meskipun mereka ada di daerah pelosok, tapi sebenarnya mereka telah mengenal handphone. Seperti halnya masyarakat modern, HP telah menjadi kebutuhan primer di samping pangan, sandang, dan papan. Bahkan, kebutuhan berkomunikasi telah menggeser kedudukan kebutuhan lain yang dulu dianggap lebih penting seperti pendidikan dan kesehatan.
Masih banyak anak muda di Gunung Kidul yang tidak memiliki pendidikan tinggi, maupun sarana kesehatan yang memadai. Bahkan, fasilitas sederhana seperti kakus pun masih jarang dijumpai. Namun, dengan biaya yang terjangkau, mereka dapat memiliki HP sebagai akses yang selanjutnya dapat membuat mereka lebih produktif. Artinya, anak muda di sana pun lebih nyaman bersentuhan dengan teknologi dibanding pendidikan maupun kesehatan.
Mereka yang sebelumnya hanya berkutat pada pola komunikasi tradisonal, perlahan berubah. Dari segenggam HP, tradisi jimpitan yang dulu hasilnya hanya digunakan untuk hal-hal sepele, kini telah berubah menjadi lebih produktif. Awalnya, hasil dari jimpitan yang terkumpul hanya digunakan untuk membangun gapura. Hasil karya yang sebetulnya tidak begitu urgen bagi warga sekitar. Belum lagi gapura itu tak mampu bertahan lama. Kawan saya itu, lantas mencoba untuk memberdayakan potensi anak muda di sana. Mengingat mereka sudah memiliki kekuatan akses yang ada pada ponsel yang mereka miliki. Melalui HP, para pemuda di sana tidak hanya dapat saling berkomunikasi, namun juga melakukan konsolidasi untuk kemajuan bersama.
Melalui konsolidasi itu, mereka akhirnya mampu berorientasi ke arah yang lebih produktif. Hasil jimpitan yang sebelumnya hanya dimanfaatkan untuk membuat gapura, kini dikreasikan menjadi produksi batako, bahkan membangun kakus di tiap rumah. Penguasaan akses bahkan tidak hanya menggeser kebutuhan primer, namun juga melengkapi kebutuhan tersebut.
Itu baru satu contoh kecil di daerah, yang mampu menjadi lebih maju, berbekal ponsel. Artinya, ponsel pun mampu memperbaharui ruang publik. Dan melalui itulah, perubahan sosial masih dimungkinkan.
Maka, jika Tan Malaka, seorang pejuang Republik Indonesia, selalu memimpikan tentang kemerdekaan 100% untuk Indonesia, dengan menolak ketergantungan. Maka, mungkin mimpi itu sudah mendekat. Dengan kemerdekaan akses informasi, maka akan dibukalah kebebasan pengetahuan, kebebasan informasi dan kebebasan wacana. Masyarakat tidak tergantung lagi pada media yang monopolistik, bahkan oportunis. Secara pengetahuan, merekalah yang secara mandiri mampu melakukan perubahan bagi dirinya, lingkungan, hingga bangsanya. Dengan begitu, kemerdekaan 100% adalah kenyataan.
Maka, mari kita sambut kemerdekaan 100% itu dengan perubahan pola pikir dan konsolidasi. Perubahan memang identik dengan mobilitas. Namun, dewasa ini mobilitas tidak hanya dicirikan secara fisik, melainkan komunikasi. Jika itu persoalannya, maka handphone adalah senjatanya, dan pemuda adalah aktor kuncinya.[]
No comments:
Post a Comment